Senin, 28 Desember 2015

Mengukur Gairah Seks Wanita Dengan Ciri Fisik Menurut Primbon Jawa

Sudah lama muncul anggapan, bentuk-bentuk fisik bagian tubuh perempuan bisa untuk mengukur kadar gairah seksualnya. Nah, ini dia 14 bentuk fisik pada diri perempuan, yang sekiranya menggambarkan hasratnya saat bercinta.


1. Bibir Sensual
Perempuan yang memiliki bibir sensual memiliki kemampuan oral seks yang hebat. Ia aktif di ranjang dan cenderung menguasai pasangannya saat bercinta.

2. Tubuh Bongkok Udang
Wanita yang memiliki tubuh bongkok udang sangat tahan lama. Goyangannya kuat dan tidak cepat orgasme.

3. Rambut Subur, Payudara Kecil
Wanita ini termasuk baik dan setia. Meskipun gairah seksualnya tidak menonjol, tapi ia mampu mengimbangi pasangannya. Kalau pria pasangannya memperlakukannya dengan penuh kasih, ia bisa jadi wanita yang menggairahkan. Tapi, ia cenderung tertarik kepada wanita sejenis alias lesbi.

4. Tubuh dan Bibir Tebal
Wanita ini tergolong pendiam. Ia pasif di tempat tidur dan tidak peduli pada pasangannya. Pria pasangannya perlu kesabaran untuk memanasinya, karena pada dasarnya ia bisa menjadi pasangan yang menyenangkan.

5. Pinggang Kecil, Pinggul Besar
Wanita ini biasa-biasa saja di tempat tidur. Ia bukan penikmat seks dan lebih memikirkan urusan rumah tangga serta masa depan anaknya. Ia tipe istri yang baik, setia dan tabah dalam menghadapi persoalan.

6. Tubuh Sedang, Mata Bulat
Wanita ini memiliki gairah seks yang kurang. Ia terlalu monoton, tidak ada keinginan untuk meningkatkan kemahiran dan belajar bagaimana menikmati seks. Seks baginya seperti kewajiban saja, sehingga banyak pasangannya yang kecewa.

7. Bibir Tipis, Alis Tebal
Secara fisik, wanita ini sangat menarik. Tetapi secara personal, ia bukan wanita yang ceria, cenderung pemuram dan pesimistis. Ia lebih sering cemberut dibanding tertawa dan tersenyum. Pantas kalau ia tampak lebih tua dibanding umurnya. Dalam hal asmara, ia tak semenarik penampilannya.

8. Payudara Besar, Wajah Bulat
Wanita ini setia, berbakti pada pria pasangannya, bahkan rela tak peduli pasangannya punya selingkuhan. Wanita ini tergolong dingin kepada pasangan. Ia sudah merasa cukup dan damai kalau dicukupi kebutuhan materialnya.

9. Bulu Halus di Tubuh
Wanita yang memiliki bulu halus di tubuh memiliki gelora seks yang menggebu-gebu dan sangat kuat dalam olahan asmara

10. Tubuh Mungil dan Padat
Wanita ini mungil dan padat sangat cerdik dan pandai saat melakukan atraksi di ranjang. Dia juga tidak mudah menyerah pada serangan yang dilakukan pasangannya.

11. Leher Panjang, Mulut Lebar
Wanita ini merupakan tipe teman yang baik. Dia berterus terang jika tak suka, membuat olah asmaranya dingin kalau pria pasangannya tak menangkap keinginannya. Wanita ini lebih suka memberikan bahasa isyarat, sehingga pihak pria harus peka dan tanggap.

12. Kaki Panjang, Dada Kecil
Wanita ini seksnya rendah, tapi Ia ramah, sopan dan pandai bertutur kata. Tapi soal asmara, wanita ini cenderung dingin, bahkan frigid. Pria pasangannya sering dibuatnya jengkel dan kesal karena itu.

13. Mata Elang dan Leher Panjang
Wanita ini diibaratkan seekor burung elang yang siap menerkam. Begitupula dalam kehidupan seksualnya, wanita yang memiliki ciri-ciri tersebut akan selalu menerkam pasangannya terlebih dahulu.

14. Lesung Pipit
Konon, pernikahan wanita ini sulit langgeng karena dia mudah tertarik pada laki-laki lain. Dalam urusan ranjang, wanita berlesung pipit tidak mudah mendapatkan kepuasan.
Sabtu, 26 Desember 2015

Sumpah, Nyupatani dan Disupatani

Menurut Baoesastra Djawa tulisan W.J.S Poerwadarminta, “supata” (atau “supaos” dalam bahasa Jawa Krama) bermakna wewelak, ipat-ipat dan netepake bener (nyata) ning prakara kanthi sumpah utawa ngajab wewelak. Sementara itu, “sumpah”, dalam kamus tersebut diartikan sebagai, nganggo pasaksining Allah diaturi nekseni yen apa sing dikandhakake pancen nyata utawa bakal dituhoni (dengan persaksian Allah untuk menyaksikan jika apa yang dikatakan memang benar atau akan dipatuhi).


Ada banyak kisah mengenai supata dalam berbagai cerita. Pada cerita pewayangan misalnya, Abimanyu pernah menyatakan bahwa dia belum menikah sembari menyampaikan supata agar bisa mengambil Dewi Utari sebagai istri. Akibat supata tersebut, pada perang Baratayudha nanti, Abimanyu akan tewas dengan luka sekujur tubuh (tatu arang kranjang) akibat serbuan anak panah. Dalam kasus ini, penyampaian suatu kebohongan yang disertai supata akan mencelakai orang tersebut. Berarti, supata berkaitan dengan kejujuran.

Supata biasanya akan “berfungsi” apabila si penyampai memiliki kesaktian. Seperti dalam cerita Rara Jonggrang-Bandung Bondowoso. Ketika Bandung belum usai merampungkan seribu candi, Rara Jonggrang memukul lesung agar ayam-ayam berkokok pertanda hari sudah pagi. Bandung Bondowoso yang murka kemudian nyupatani Rara Jonggrang sehingga menjadi arca untuk melengkapi candi keseribu. Dalam kasus ini, Rara Jonggrang terkena supata akibat berbohong, sementara Bandung menyampaikan supata karena telah dibohongi.

Pada zaman sekarang, kata “supata” telah jarang terdengar. Yang masih kerap terdengar justru kata “sumpah” atau “swear”. Kalau ada seseorang yang tak dipercayai lawan bicaranya, maka akan memantapkan pernyataannya dengan mengatakan, “Sumpah ! Wani samber bledheg! Wani kithing!” dan lainnya. Malah sampai tercetus “sumpah pocong!”.

Sebetulnya, seseorang yang terbiasa mengucapkan supata atau sumpah hanyalah mencari benarnya sendiri. Dia tidak mengerti kalau supata atau sumpah yang diucapkan disaksikan Allah. Kebiasaan tersebut terjadi karena karakter yang kurang kokoh, sehingga tidak bisa menjadi patokan moral.
Kebiasaan tersebut bisa dihilangkan melalui pendidikan karakter, sejak anak-anak masih kecil. Anak-anak dibiasakan berbicara apa adanya, tidak usah dengan supata atau sumpah. Kebiasaan balas dendam juga harus dihilangkan sedari dini. Sifat Tuhan yang memaafkan hamba-hambaNya harus menjadi teladan. Seseorang harus memiliki sifat legawa, jembar penggalihipun, dan mirah pangapuntenipun.

Ritual Minum Arak serta Seks Raja Kertanegara

Sri Maharaja Kertanagara atau yang lebih dikenal sebagai Raja Kertanegara adalah raja terakhir dan terkenal yang memerintah Kerajaan Singhasari. Kertanagara naik takhta Singhasari tahun 1268 menggantikan ayahnya, Wisnuwardhana.

Prabu Kertanegara dipandang sebagai penguasa Jawa pertama yang berambisi ingin menyatukan wilayah Nusantara. Untuk mewujudkan ambisinya, dilaksanakanlah ekspedisi Pamalayu (Pamalayu bermakna perang Malayu) yang bertujuan untuk menaklukkan kerajaan-kerajaan di Sumatera sehingga dapat memperkuat pengaruhnya di Selat Malaka yang merupakan jalur ekonomi dan politik penting.
Ekspedisi ini juga bertujuan untuk menghadang pengaruh kekuasaan Mongol yang telah menguasai hampir seluruh daratan Asia kala itu.


Beberapa catatan sejarah menyebutkan bahwa Ekspedisi Pamalayu ini bertujuan untuk menjalin kekuatan untuk menghadapi bangsa Mongol dari Dinasti Yuan yang berkedudukan di Khanbalik (Beijing sekarang).

Saat itu Dinasti Yuan atau dikenal sebagai Kekaisaran Mongolia sedang melakukan ekspansi wilayah bahkan memiliki bentangan yang cukup luas, dari Korea hingga Rusia (Kievan Rus), Timur-Tengah (menghancurkan dinasti Abbasiyah di Baghdad) dan Eropa Timur.

Pada tahun-tahun itu, Emperium Mongol ini berusaha mengadakan perluasan diantaranya ke Jepang dan Jawa. Jadi maksud ekspedisi ini adalah untuk menghadang langsung armada Mongol agar tidak masuk ke perairan Jawa.

Saat bersinggungan dengan Mongol inilah Kertanegara yang menganut Buddha ini mengenal aliran Tantrayana kiri. Istilah Tantrayana ini berasal dari akar kata “Tan” yang artinya memaparkan kesaktian atau kekuatan daripada dewa.

Di India penganut Tantrisme banyak terdapat di India Selatan dibandingkan dengan India Utara. Tantra adalah suatu kombinasi yang unik antara mantra, upacara dan pemujaan secara total.

Menurut Nagarakretagama, Kertanagara dikisahkan sebagai seorang yang bebas dari segala dosa. Bahkan, salah satu ritual Tantrayana kiri adalah berpesta minuman keras dan seks demi mencapai pencerahan atau nirwana.

Namun ritual ini hanya dilakukan Kertanegara untuk mencapai pencerahan demi kemakmuran negara dan rakyat serta dalam menangkal serangan musuh. Jadi bukan untuk kesenangan pribadi atau kenikmatan duniawi semata.

Konon ritual ini mulai dilakukan Kertanegara karena dia mendapatkan kabar jika kehebatan Kubilai Khan yang berhasil menaklukan sebagian daratan Eropa dan Asia ternyata berasal dari kekuatan gaib ritual Tantrik yang dipelajari Raja Mongolia ini dari seorang biksu Tibet.

Kemudian Kertanegara mulai mendatangkan para spriritualist ahli Tantra dari Champa (Kamboja) yang berupa gadis-gadis muda yang menawan atau yoginis.

Ritual tersebut dilakukan Kertanegara di bangsal perempuan istananya dengan melibatkan para bawahannya dengan berpasang-pasangan baik laki-laki dan perempuan serta minuman keras.

Para peserta memakai topeng agar identitas mereka tersamarkan. Dalam praktiknya sejumlah peserta yang terdiri dari menteri dan hulubalang Singhasari ini mengikuti ritual dengan taat untuk menguji kemampuan menahan godaan nafsu duniawi demi meraih jalan menuju nirwana.

Sumber :
- Buku Gayatri Rajapatni, Earl Drake, Penerbit Ombak, 2012.

- Wikipedia dan diolah dari berbagai sumber.
Jumat, 25 Desember 2015

4 Hal yang Harus Dilakukan Pria Kepada Istri dalam Tradisi Jawa

Menurut budaya Jawa, perempuan memiliki peran dan tanggung jawab yang sangat menentukan atas kualitas anak yang akan dilahirkannya. Mulai sejak awal pembuahan sampai ada dalam kandungan ibu, anak manusia ini harus mendapatkan bimbingan batin dari ibu secara terus menerus agar kelak dapat dilahirkan sosok anak manusia yang memiliki kondisi linuwih (unggul).

Seperti juga tanaman, akan subur dan berbuah lebat, sehat, bernas dan berkualitas jika tanaman itu sejak awal penanaman telah disiapkan dan diprogramkan. Demikian pula dengan memprogram kelahiran seorang anak manusia. Modal kasih sayang calon ayah pada ibu mesti dipupuk dan dipelihara jangan sampai dilumuri dengan nafsu-nafsu biologis yang brutal.


Perkawinan, dalam khasanah budaya Jawa (juga budaya lain) adalah sesuatu yang sakral, suci. Karena itu selalu dilakukan secara khusus disertai curahan doa dari para sesepuh (orang tua), handai taulan, sahabat, dan kenalan.

Prof. Ir. R. M. Soewandi Notokoesoemo, mantan Menteri Pengajaran, Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia (1955-1956) Kabinet Burhanuddin Harahap pernah menyebutkan 'dalam memadu cinta, memadu tubuh dan jiwa dan memadu cipta, hendaknya jangan hanya didorong oleh tujuan untuk menciptakan buah cinta sayang mereka berdua yakni keturunan/tunas generasi baru yang baik segala-galanya.

Dari keinginan itu, menurut Soewandi, hendaknya sepasang manusia harus saling menyiapkan diri untuk proses regenerasi dengan lila, narima, temen, lan utama (rela hati, menerima dengan hati yang bersyukur, lurus hati/jujur, dan utama/budi pekerti yang baik).

1. Lila: artinya suami harus dengan hati rela menerima rayuan dan permintaan istri. Sebab rayuan tersebut bila dipenuhi akan menyebabkan makin besar cinta kasih istri pada suami sehingga kebahagiaan istri makin besar dan mantap.

2. Narima: artinya suami harus menerima sepenuh hati kepuasan hati istri yang berupa imbalan pelayanan dari istri sebab bila imbalan pelayanan tersebut dihargai dan diterima dengan gembira hati, maka akan membuat kebahagiaan hati istri. Hal itu akan terlihat pada kemantapan dan kesungguhan istri dalam melayani kehendak suami.

3. Temen: artinya suami harus benar-benar setia pada janji atau kesanggupan yang telah diucapkan. Sebab bila janji tidak dipenuhi akan berakibat berkurangnya cinta kasih istri sehingga bisa menyebabkan berkurangnya rasa hormat istri pada suami.

4. Utama: artinya suami harus gemar memaafkan kesalahan istri sebab bagi suami yang mudah memaafkan kesalahan istri tentang hal-hal kecil (sepele) sehari-hari akan menambah keteguhan hati istri. Ini akan membuat istri sudi berkorban demi suami.

Yang lebih utama, pasangan suami istri harus memahami pertelaan (perincian) penitisan wijining dumadi (bibit anak manusia yang baik) dengan memahami saat-saat yang baik untuk memadu cinta, memadu tubuh, jiwa dan memadu cipta yang tepat.

Hubungan Intim Dalam Tradisi Jawa

Salah satu penyebab munculnya manusia-manusia yang kurang berbudaya karena sikap dan tindak tanduknya tidak sesuai kaidah dan tatanan menurut para leluhur di Jawa adalah karena sejak lahir manusia tidak disiapkan. Persiapan itu bahkan terjadi sebelum seorang manusia lahir. Diyakini jika sesuatu tidak dimulai dengan cara atau jalan yang benar maka akibatnya adalah kesalahan yang menumpuk. Artinya sejak awal pembentukan manusia (hubungan intim) terjadi, kita tidak bisa sembarangan.


Dalam berbagai lakon carangan wayang kulit Purwa karya Wali Sanga proses kelahiran menjadi sesuatu yang penting. Kalau ada kekeliruan bisa mengakibatkan bahaya di masa depan (dewasa). Proses yang keliru itu disebut "Salah Kawitane, Bilae Wekasane" atau salah pada awalnya (salah cara senggamanya sehingga celaka sampai akhir).

Kisah-kisah pewayangan yang menggambarkan kekeliruan itu antara lain 'Kisah Begawan Abiyasa', 'Hikayat Sri Rama', 'Aji Dipa Manunggal' (kisah lahirnya Pendawa Lima). Ada juga kisah yang menuju pemahaman tentang wedharing kawruh sangkan paraning dumadi (uraian pengetahuan tentang awal mula kehidupan) dalam lakon 'Bima Mencari Tirta Perwita Suci' yang mengajarkan inti falsafah kehidupan.

Beragam kisah ini menjadi contoh jelas bahwa konsep spiritual tentang nikah rohiah diharapkan dapat menurunkan generasi penerus yang berkualitas.

Sepasang manusia sudah menyiapkan diri secara total dalam olah rasa, karsa dan ciptanya pada waktu menjelang (saat dan sesudah) melakukan hubungan intim atau penyatuan raga dan jiwa yang telah diikrarkan dalam bentuk nikah jasmani (upacara pernikahan) untuk mendapatkan keturunan dan generasi yang bermutu.

"Secara rasional-emosional hal ini mungkin dianggap mimpi terutama bagi mereka yang tidak mau belajar spiritualisme Jawa dan dianggap mitos. Tetapi kenyataannya memang selama ini begitu adanya,"ujar Budiono Herusatoto dalam bukunya Seks Para Leluhur.

Seni Dan Mitos Seks Dalam Ajaran Jawa

Salah satu pertanda dari peradaban adalah seksualitas. Manusia sudah demikian maju dari sekedar memuaskan naluri kebinatangan yang bersifat badaniah ke berbagai keintiman cinta, dengan segala kemesraan, kelembutan, sensualitas dan keceriaannya. Peningkatan kualitas pada seksualitas sering merupakan konsekuensi alami dari peradaban yang stabil, matang dan canggih. (Seni & Mitos Seksualitas Cina Kuno, Quills Book Publisher, 2007).


Perjalanan peradaban manusia tidak pernah bisa dipisahkan dari seks, mengingat seks sebagai salah satu cara untuk meraih kebahagian sekaligus sarana untuk meneruskan keturunan. Sudut pandang dan pemahaman manusia tentang seks berbeda-beda menurut adat kebudayaannya masing-masing. Hal ini terungkap dari temuan manuskrip-manuskrip sastra yang memuat tentang ajaran seksologi di berbagai negara. Dari berbagai temuan dari peradaban dunia, India dan Cina dianggap sebagai negara yang dengan jelas menuliskan tentang seks sebagai seni bercinta adalah kegiatan ritual mistis sebagai bagian dari harmoni kehidupan. Bahkan kitab-kitabTantradari India dengan gamblang mengambarkan berbagai posisi dalam hubungan seksual pada relief-relief candi. Ini pun juga terekam dengan jelas pada lukisan-lukisan kuno Cina yang disebut sebagaiSeni Kamar Tidur. Perbedaan pemahaman tentang seks antara India dan Cina terletak pada paradigma, dalam Tantrisme mengarah sebagai ritual keagamaan yang bersifat sakral sedangkan kebudayaan Cina memandang sebagai kegiatan pragmatis keduniawian yang mengarah pada ketenangan, kebahagian dan kesehatan.

Di Indonesia (peradaban Jawa), temuan tertua mengenai seks berada di Candi Sukuh, Karanganyar. Kebudayaan Hindu yang pada waktu itu menjadi sentral tentang ajaran seks terlihat pada patung lingga-yoni sebagai menifestasi alat kelamin pria dan wanita. Pemahaman dan filosofis dari seks ini lebih lanjut terurai pada masa kerajaan Kasunanan Surakarta dengan diciptakannya Serat Centini dan Serat Nitimani. Dari sini dapat disimpulkan bahwa orang Jawa dahulu telah mempunyai pemahaman akan seni bercinta dengan baik, ditunjukan dengan berbagai macam tata cara dan posisi seks yang tidak menyimpang atau menjijikkan dalam kaidah kesehatan modern saat ini.

Serat Centini sebagai ensiklopedia kebudayaan Jawa memasukkan seks menjadi bagian dari tata cara dan ritual kehidupan yang selaras. Serat Centini dan Serat Nitimani menuliskan hakikat kegiatan seks sebagai sarana untuk meneruskan keturunan. Etika dan tata cara melakukan hubungan seks dibuat dengan tujuan sebagai sarana kebahagian dan juga untuk meningkatkan harkat dan martabat pelaku. Sisi religius dari seks digambarkan dengan adanya mantra-mantra saat melakukan kegiatan tersebut sebagai upaya atau doa agar mendapatkan keturunan yang baik. Seluruh ajaran tersebut disampaikan dalam bentuk tembang Macapat, sehingga ketika disampaikan dalam bentuk arahan atau piwulang orang tua terhadap anak tidak berkesan vulgar.