Sabtu, 26 Desember 2015

Sumpah, Nyupatani dan Disupatani

Menurut Baoesastra Djawa tulisan W.J.S Poerwadarminta, “supata” (atau “supaos” dalam bahasa Jawa Krama) bermakna wewelak, ipat-ipat dan netepake bener (nyata) ning prakara kanthi sumpah utawa ngajab wewelak. Sementara itu, “sumpah”, dalam kamus tersebut diartikan sebagai, nganggo pasaksining Allah diaturi nekseni yen apa sing dikandhakake pancen nyata utawa bakal dituhoni (dengan persaksian Allah untuk menyaksikan jika apa yang dikatakan memang benar atau akan dipatuhi).


Ada banyak kisah mengenai supata dalam berbagai cerita. Pada cerita pewayangan misalnya, Abimanyu pernah menyatakan bahwa dia belum menikah sembari menyampaikan supata agar bisa mengambil Dewi Utari sebagai istri. Akibat supata tersebut, pada perang Baratayudha nanti, Abimanyu akan tewas dengan luka sekujur tubuh (tatu arang kranjang) akibat serbuan anak panah. Dalam kasus ini, penyampaian suatu kebohongan yang disertai supata akan mencelakai orang tersebut. Berarti, supata berkaitan dengan kejujuran.

Supata biasanya akan “berfungsi” apabila si penyampai memiliki kesaktian. Seperti dalam cerita Rara Jonggrang-Bandung Bondowoso. Ketika Bandung belum usai merampungkan seribu candi, Rara Jonggrang memukul lesung agar ayam-ayam berkokok pertanda hari sudah pagi. Bandung Bondowoso yang murka kemudian nyupatani Rara Jonggrang sehingga menjadi arca untuk melengkapi candi keseribu. Dalam kasus ini, Rara Jonggrang terkena supata akibat berbohong, sementara Bandung menyampaikan supata karena telah dibohongi.

Pada zaman sekarang, kata “supata” telah jarang terdengar. Yang masih kerap terdengar justru kata “sumpah” atau “swear”. Kalau ada seseorang yang tak dipercayai lawan bicaranya, maka akan memantapkan pernyataannya dengan mengatakan, “Sumpah ! Wani samber bledheg! Wani kithing!” dan lainnya. Malah sampai tercetus “sumpah pocong!”.

Sebetulnya, seseorang yang terbiasa mengucapkan supata atau sumpah hanyalah mencari benarnya sendiri. Dia tidak mengerti kalau supata atau sumpah yang diucapkan disaksikan Allah. Kebiasaan tersebut terjadi karena karakter yang kurang kokoh, sehingga tidak bisa menjadi patokan moral.
Kebiasaan tersebut bisa dihilangkan melalui pendidikan karakter, sejak anak-anak masih kecil. Anak-anak dibiasakan berbicara apa adanya, tidak usah dengan supata atau sumpah. Kebiasaan balas dendam juga harus dihilangkan sedari dini. Sifat Tuhan yang memaafkan hamba-hambaNya harus menjadi teladan. Seseorang harus memiliki sifat legawa, jembar penggalihipun, dan mirah pangapuntenipun.

Ritual Minum Arak serta Seks Raja Kertanegara

Sri Maharaja Kertanagara atau yang lebih dikenal sebagai Raja Kertanegara adalah raja terakhir dan terkenal yang memerintah Kerajaan Singhasari. Kertanagara naik takhta Singhasari tahun 1268 menggantikan ayahnya, Wisnuwardhana.

Prabu Kertanegara dipandang sebagai penguasa Jawa pertama yang berambisi ingin menyatukan wilayah Nusantara. Untuk mewujudkan ambisinya, dilaksanakanlah ekspedisi Pamalayu (Pamalayu bermakna perang Malayu) yang bertujuan untuk menaklukkan kerajaan-kerajaan di Sumatera sehingga dapat memperkuat pengaruhnya di Selat Malaka yang merupakan jalur ekonomi dan politik penting.
Ekspedisi ini juga bertujuan untuk menghadang pengaruh kekuasaan Mongol yang telah menguasai hampir seluruh daratan Asia kala itu.


Beberapa catatan sejarah menyebutkan bahwa Ekspedisi Pamalayu ini bertujuan untuk menjalin kekuatan untuk menghadapi bangsa Mongol dari Dinasti Yuan yang berkedudukan di Khanbalik (Beijing sekarang).

Saat itu Dinasti Yuan atau dikenal sebagai Kekaisaran Mongolia sedang melakukan ekspansi wilayah bahkan memiliki bentangan yang cukup luas, dari Korea hingga Rusia (Kievan Rus), Timur-Tengah (menghancurkan dinasti Abbasiyah di Baghdad) dan Eropa Timur.

Pada tahun-tahun itu, Emperium Mongol ini berusaha mengadakan perluasan diantaranya ke Jepang dan Jawa. Jadi maksud ekspedisi ini adalah untuk menghadang langsung armada Mongol agar tidak masuk ke perairan Jawa.

Saat bersinggungan dengan Mongol inilah Kertanegara yang menganut Buddha ini mengenal aliran Tantrayana kiri. Istilah Tantrayana ini berasal dari akar kata “Tan” yang artinya memaparkan kesaktian atau kekuatan daripada dewa.

Di India penganut Tantrisme banyak terdapat di India Selatan dibandingkan dengan India Utara. Tantra adalah suatu kombinasi yang unik antara mantra, upacara dan pemujaan secara total.

Menurut Nagarakretagama, Kertanagara dikisahkan sebagai seorang yang bebas dari segala dosa. Bahkan, salah satu ritual Tantrayana kiri adalah berpesta minuman keras dan seks demi mencapai pencerahan atau nirwana.

Namun ritual ini hanya dilakukan Kertanegara untuk mencapai pencerahan demi kemakmuran negara dan rakyat serta dalam menangkal serangan musuh. Jadi bukan untuk kesenangan pribadi atau kenikmatan duniawi semata.

Konon ritual ini mulai dilakukan Kertanegara karena dia mendapatkan kabar jika kehebatan Kubilai Khan yang berhasil menaklukan sebagian daratan Eropa dan Asia ternyata berasal dari kekuatan gaib ritual Tantrik yang dipelajari Raja Mongolia ini dari seorang biksu Tibet.

Kemudian Kertanegara mulai mendatangkan para spriritualist ahli Tantra dari Champa (Kamboja) yang berupa gadis-gadis muda yang menawan atau yoginis.

Ritual tersebut dilakukan Kertanegara di bangsal perempuan istananya dengan melibatkan para bawahannya dengan berpasang-pasangan baik laki-laki dan perempuan serta minuman keras.

Para peserta memakai topeng agar identitas mereka tersamarkan. Dalam praktiknya sejumlah peserta yang terdiri dari menteri dan hulubalang Singhasari ini mengikuti ritual dengan taat untuk menguji kemampuan menahan godaan nafsu duniawi demi meraih jalan menuju nirwana.

Sumber :
- Buku Gayatri Rajapatni, Earl Drake, Penerbit Ombak, 2012.

- Wikipedia dan diolah dari berbagai sumber.
Jumat, 25 Desember 2015

4 Hal yang Harus Dilakukan Pria Kepada Istri dalam Tradisi Jawa

Menurut budaya Jawa, perempuan memiliki peran dan tanggung jawab yang sangat menentukan atas kualitas anak yang akan dilahirkannya. Mulai sejak awal pembuahan sampai ada dalam kandungan ibu, anak manusia ini harus mendapatkan bimbingan batin dari ibu secara terus menerus agar kelak dapat dilahirkan sosok anak manusia yang memiliki kondisi linuwih (unggul).

Seperti juga tanaman, akan subur dan berbuah lebat, sehat, bernas dan berkualitas jika tanaman itu sejak awal penanaman telah disiapkan dan diprogramkan. Demikian pula dengan memprogram kelahiran seorang anak manusia. Modal kasih sayang calon ayah pada ibu mesti dipupuk dan dipelihara jangan sampai dilumuri dengan nafsu-nafsu biologis yang brutal.


Perkawinan, dalam khasanah budaya Jawa (juga budaya lain) adalah sesuatu yang sakral, suci. Karena itu selalu dilakukan secara khusus disertai curahan doa dari para sesepuh (orang tua), handai taulan, sahabat, dan kenalan.

Prof. Ir. R. M. Soewandi Notokoesoemo, mantan Menteri Pengajaran, Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia (1955-1956) Kabinet Burhanuddin Harahap pernah menyebutkan 'dalam memadu cinta, memadu tubuh dan jiwa dan memadu cipta, hendaknya jangan hanya didorong oleh tujuan untuk menciptakan buah cinta sayang mereka berdua yakni keturunan/tunas generasi baru yang baik segala-galanya.

Dari keinginan itu, menurut Soewandi, hendaknya sepasang manusia harus saling menyiapkan diri untuk proses regenerasi dengan lila, narima, temen, lan utama (rela hati, menerima dengan hati yang bersyukur, lurus hati/jujur, dan utama/budi pekerti yang baik).

1. Lila: artinya suami harus dengan hati rela menerima rayuan dan permintaan istri. Sebab rayuan tersebut bila dipenuhi akan menyebabkan makin besar cinta kasih istri pada suami sehingga kebahagiaan istri makin besar dan mantap.

2. Narima: artinya suami harus menerima sepenuh hati kepuasan hati istri yang berupa imbalan pelayanan dari istri sebab bila imbalan pelayanan tersebut dihargai dan diterima dengan gembira hati, maka akan membuat kebahagiaan hati istri. Hal itu akan terlihat pada kemantapan dan kesungguhan istri dalam melayani kehendak suami.

3. Temen: artinya suami harus benar-benar setia pada janji atau kesanggupan yang telah diucapkan. Sebab bila janji tidak dipenuhi akan berakibat berkurangnya cinta kasih istri sehingga bisa menyebabkan berkurangnya rasa hormat istri pada suami.

4. Utama: artinya suami harus gemar memaafkan kesalahan istri sebab bagi suami yang mudah memaafkan kesalahan istri tentang hal-hal kecil (sepele) sehari-hari akan menambah keteguhan hati istri. Ini akan membuat istri sudi berkorban demi suami.

Yang lebih utama, pasangan suami istri harus memahami pertelaan (perincian) penitisan wijining dumadi (bibit anak manusia yang baik) dengan memahami saat-saat yang baik untuk memadu cinta, memadu tubuh, jiwa dan memadu cipta yang tepat.

Hubungan Intim Dalam Tradisi Jawa

Salah satu penyebab munculnya manusia-manusia yang kurang berbudaya karena sikap dan tindak tanduknya tidak sesuai kaidah dan tatanan menurut para leluhur di Jawa adalah karena sejak lahir manusia tidak disiapkan. Persiapan itu bahkan terjadi sebelum seorang manusia lahir. Diyakini jika sesuatu tidak dimulai dengan cara atau jalan yang benar maka akibatnya adalah kesalahan yang menumpuk. Artinya sejak awal pembentukan manusia (hubungan intim) terjadi, kita tidak bisa sembarangan.


Dalam berbagai lakon carangan wayang kulit Purwa karya Wali Sanga proses kelahiran menjadi sesuatu yang penting. Kalau ada kekeliruan bisa mengakibatkan bahaya di masa depan (dewasa). Proses yang keliru itu disebut "Salah Kawitane, Bilae Wekasane" atau salah pada awalnya (salah cara senggamanya sehingga celaka sampai akhir).

Kisah-kisah pewayangan yang menggambarkan kekeliruan itu antara lain 'Kisah Begawan Abiyasa', 'Hikayat Sri Rama', 'Aji Dipa Manunggal' (kisah lahirnya Pendawa Lima). Ada juga kisah yang menuju pemahaman tentang wedharing kawruh sangkan paraning dumadi (uraian pengetahuan tentang awal mula kehidupan) dalam lakon 'Bima Mencari Tirta Perwita Suci' yang mengajarkan inti falsafah kehidupan.

Beragam kisah ini menjadi contoh jelas bahwa konsep spiritual tentang nikah rohiah diharapkan dapat menurunkan generasi penerus yang berkualitas.

Sepasang manusia sudah menyiapkan diri secara total dalam olah rasa, karsa dan ciptanya pada waktu menjelang (saat dan sesudah) melakukan hubungan intim atau penyatuan raga dan jiwa yang telah diikrarkan dalam bentuk nikah jasmani (upacara pernikahan) untuk mendapatkan keturunan dan generasi yang bermutu.

"Secara rasional-emosional hal ini mungkin dianggap mimpi terutama bagi mereka yang tidak mau belajar spiritualisme Jawa dan dianggap mitos. Tetapi kenyataannya memang selama ini begitu adanya,"ujar Budiono Herusatoto dalam bukunya Seks Para Leluhur.

Seni Dan Mitos Seks Dalam Ajaran Jawa

Salah satu pertanda dari peradaban adalah seksualitas. Manusia sudah demikian maju dari sekedar memuaskan naluri kebinatangan yang bersifat badaniah ke berbagai keintiman cinta, dengan segala kemesraan, kelembutan, sensualitas dan keceriaannya. Peningkatan kualitas pada seksualitas sering merupakan konsekuensi alami dari peradaban yang stabil, matang dan canggih. (Seni & Mitos Seksualitas Cina Kuno, Quills Book Publisher, 2007).


Perjalanan peradaban manusia tidak pernah bisa dipisahkan dari seks, mengingat seks sebagai salah satu cara untuk meraih kebahagian sekaligus sarana untuk meneruskan keturunan. Sudut pandang dan pemahaman manusia tentang seks berbeda-beda menurut adat kebudayaannya masing-masing. Hal ini terungkap dari temuan manuskrip-manuskrip sastra yang memuat tentang ajaran seksologi di berbagai negara. Dari berbagai temuan dari peradaban dunia, India dan Cina dianggap sebagai negara yang dengan jelas menuliskan tentang seks sebagai seni bercinta adalah kegiatan ritual mistis sebagai bagian dari harmoni kehidupan. Bahkan kitab-kitabTantradari India dengan gamblang mengambarkan berbagai posisi dalam hubungan seksual pada relief-relief candi. Ini pun juga terekam dengan jelas pada lukisan-lukisan kuno Cina yang disebut sebagaiSeni Kamar Tidur. Perbedaan pemahaman tentang seks antara India dan Cina terletak pada paradigma, dalam Tantrisme mengarah sebagai ritual keagamaan yang bersifat sakral sedangkan kebudayaan Cina memandang sebagai kegiatan pragmatis keduniawian yang mengarah pada ketenangan, kebahagian dan kesehatan.

Di Indonesia (peradaban Jawa), temuan tertua mengenai seks berada di Candi Sukuh, Karanganyar. Kebudayaan Hindu yang pada waktu itu menjadi sentral tentang ajaran seks terlihat pada patung lingga-yoni sebagai menifestasi alat kelamin pria dan wanita. Pemahaman dan filosofis dari seks ini lebih lanjut terurai pada masa kerajaan Kasunanan Surakarta dengan diciptakannya Serat Centini dan Serat Nitimani. Dari sini dapat disimpulkan bahwa orang Jawa dahulu telah mempunyai pemahaman akan seni bercinta dengan baik, ditunjukan dengan berbagai macam tata cara dan posisi seks yang tidak menyimpang atau menjijikkan dalam kaidah kesehatan modern saat ini.

Serat Centini sebagai ensiklopedia kebudayaan Jawa memasukkan seks menjadi bagian dari tata cara dan ritual kehidupan yang selaras. Serat Centini dan Serat Nitimani menuliskan hakikat kegiatan seks sebagai sarana untuk meneruskan keturunan. Etika dan tata cara melakukan hubungan seks dibuat dengan tujuan sebagai sarana kebahagian dan juga untuk meningkatkan harkat dan martabat pelaku. Sisi religius dari seks digambarkan dengan adanya mantra-mantra saat melakukan kegiatan tersebut sebagai upaya atau doa agar mendapatkan keturunan yang baik. Seluruh ajaran tersebut disampaikan dalam bentuk tembang Macapat, sehingga ketika disampaikan dalam bentuk arahan atau piwulang orang tua terhadap anak tidak berkesan vulgar.
Jumat, 18 September 2015

Jejak Para Raja Dalam Pewayangan Jawa

Asal mula masuknya dan pementasan wayang kulit di Nusantara memang belum diketahui secara pasti. Berita tertulis tertua yang menyebutkan mengenai wayang terdapat dalam Kakawin Arjunawiwaha gubahan Mpu Kanwa yang hidup pada masa pemerintahan Raja Airlangga (1019-1042). Kata wayang dalam kakawin tersebut nampak pada penyebutan “awayang” atau “aringgit” sebagai berikut. Hananonton ringgit manangis asekel muda bidepan buwus wruh tuwin yan walulang inukir malah inucap batur nin wan tresnen wisaya malaha ta wihikanari tatwa nyan maya sahana-hana nin bawa siluman…. (Ada orang yang menonton wayang menangis sedih. Bodoh benar dia. Padahal sudah tahu juga bahwa yang bergerak dan berbicara itu kulit yang ditatah. Memang kata orang dia sedang terkena daya gaib, sedangkan seharusnya ia tahu bahwa pada hakekatnya (pertunjukan) itu hanyalah palsu, segala yang ada ini maya belaka).


Untuk selanjutnya, para penguasa di Tanah Jawa saling berlomba-lomba untuk menyempurnakan pagelaran wayang hingga pada sosok wayang itu sendiri. Tak hanya penguasa, para ulama seperti Walisongo juga memanfaatkannya sebagai media dakwah. Berikut ulasan pengembangannya dari masa ke masa.

1
Prabu Jayabaya memindahkan dan memperbesar gambar-gambar wayang dari daun Tal ke permukaan kulit yang ditatah dan diberi pegangan dari bambu pada tahun 959 Masehi atau 861 Çaka dengan sengkalan candraning wayang wolu (Akan tetapi pendapat ini tidak sesuai dengan ilmu sejarah, karena pada tahun itu yang memerintah kerajaan adalah Empu Sindok (928-947) dan prabu Jayabaya memerintah tahun 1130-1160).

2
Prabu Brawijaya dari kerajaan Majapahit menyempurnakan gambar wayang dengan memberi sunggingan (warna) pada tahun 1378 Masehi atau 1300 Çaka dengan sengkalan tanpa srna gunaning atmaja.

3
Prabu Ajisaka atau Widayaka dari kerajaan Purwacarita membuat Pakem Lakon Dewa-Dewa pada tahun 1379 atau 1301 Çaka, dengan sngkalan ratu guna maletik tunggal.

4
Para Wali seperti Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, dan Sunan Kudus menyempurnakan pertunjukan wayang dengan pemakaian kelir, debog, blencong, untuk pertunjukan semalam suntuk pada tahun 1521 atau 1443 Çaka dengan sengkalan geni dadi sucining jagad.

5
Sultan Trenggana dari kerajaan Kediri menyempurnakan bentuk wayang dengan penatahan pada tahun 1555 atau 1477 Çaka, dengan sengkalan resi pitu kinarya tunggal. (Pendapat ini tidak cocok dengan ilmu sejarah karena Sultan Trenggana memerintah Kediri pada tahun 1521-1546).

6
Prabu Hamangkurat Tegal Arum (Amangkurat I) menambah pertunjukan wayang dengan pengiringan pesinden pada tahun 1634 atau 1556 Çaka, dengan sengkalan wayang dua ing wana tunggal.

Perkembangan bentuk dan pementasan wayang kulit sejak kerajaan Hindu hingga pembaruan pada masa Islam yang termuat dalam Serat Centhini tersebut kini dapat dilihat dalam setiap pertunjukan wayang kulit purwa. Hal ini dapat dicermati mulai dari simpingan wayang hingga bentuk masing-masing tokoh pewayangan yang banyak menyimbolkan watak wantu manusia.

Gugon Tuhon Pantangan Ibu Hamil

PERCAYA atau tidak, hingga kini, masyarakat pendukung kebudayaan Jawa masih memegang teguh hal-hal mitos tertentu, seperti pantangan untuk ibu hamil. Memang sejatinya hal-hal yang merupakan pantangan ini untuk beberapa kasus terlihat logis, namun pada beberapa kasus lainnya terlihat tak mampu dijangkau nalar.


Pantangan-pantangan tersebut antara lain,

Pantangan melipat bungkus makanan. Konon, ketika seorang ibu alpa dengan melipat bungkus makanan, si jabang bayi nanti terlahir dengan kondisi terbungkus ari-ari (plasenta).

Pantangan memakan udang dan kepiting. Selain karena kedua seafood ini mengandung merkuri yang bisa berdampak pada cacatnya si jabang bayi, menurut kepercayaan nenek moyang, ibu hamil yang mengonsumsi udang dan kepiting akan melahirkan anak yang berbadan bungkuk.

Pantangan duduk terlalu lama. Konon, ibu hamil yang duduk terlalu lama akan mengalami kesulitan dalam proses persalinan.

Pantangan memakan telur. Sebenarnya telur mengandung banyak protein hewani yang baik untuk pertumbuhan sel-sel baru. Namun masyarakat penghayat kebudayaan Jawa melarang ibu hamil memakan telur sebab akan membuat janin terus bergerak dan menggelisahkan sang ibu.

Suami Dilarang Membunuh Hewan Apapun Selama Istri Hamil. Larangan ini sepertinya sudah mengakar sekali di kalangan masyarakat. Konon, ketika suami alpa dan membunuh hewan secara semena-mena, anak yang terlahir nanti akan mengalami cacat atau berrupa sama seperti hewan yang dibunuh.

Pantangan Duduk di Tengah-Tengah Pintu. Selain dilarang untuk duduk terlalu lama, ibu hamil dilarang untuk duduk di tengah-tengah pintu. Mereka percaya duduk di tengah pintu akan membuat proses persalinan akan berjalan sulit karena bayinya akan berhenti keluar ketika sudah keluar setengah.

Pantangan Mandi Larut Malam. Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, si jabang bayi dari ibu hamil yang mandi larut malam akan menyusut atau bisa lahir secara prematur.

Pantangan Mengikatkan Handuk di Leher. Ibu hamil yang mengikatkan handuk di leher konon menyebabkan si jabang bayi terikat oleh tali pusar sehingga menyulitkan proses persalinan.

Pantangan Memaki dan Mengumpat Orang. Tentu saja ibu yang tengah mengandung harus menjaga sikap dengan tidak memaki atau menggunjing orang lain meskipun dia dalam kondisi semarah apapun. Ditakutkan, orang yang dimaki atau digunjingkan akan memberikan doa buruk pada kehamilan ibu tersebut.

Pantangan Makan Pisang Dempet. Konon ibu hamil yang mengonsumsi pisang dempet (pisang siam) dan buah siam lainnya dipercaya dapat membuat ibu hamil mengandung anak yang kembar siam.

Pantangan Menutup Lubang dan Menjahit Baju. Gugon tuhon yang berkembang, ibu hamil yang menjahit baju atau menutup lubang akan menyebabkan bagian dari tubuh bayi yang berlubang seperti (maaf) anus menjadi tersumbat. Atau kebalikannya, akan ada bagian tubuh bayi yang berlubang.

Beberapa pantangan yang beraroma mitos itu mungkin sebagian dari banyak mitos yang berkembang di wilayah lain di Jawa Tengah. Namun satu yang pasti, seorang ibu hamil dan suaminya, harus benar-benar menjaga sikap dan perilaku hingga sang bayi hadir di dunia. Prinsip Jawa menuturkan, sapa nandur bakal ngundhuh. Siapa menabur, dialah yang menuai. Terlepas dari mitos yang ada, akan senantiasa mulia jika selalu eling dan waspada.